Info Lomba Rally Foto Festival Masyarakat Bahrai 2007

August 15th, 2007 by antophoto

Info; Lomba Rally Foto Festival Masyarakat Bahrai 2007

Kegiatan ini kami laksanakan dalam rangka hari ulang tahun
makassar yang ke 400 besar harapan kami Lomba Foto ini dapat
memberikan edukasi yang positif kepada masyarakat Indonesia
melalui fotografi serta dapat menambah citra yang baik bagi
perkembangan fotografi di tanah air.

Berikut kami sampaikan ketentuan & penjelasan mengenai
"Lomba Rally Foto Sandeq Race 2007"

Kategori lomba :
A. lomba Foto Profesional dengan ketentuan sbb :

1. Lomba foto terbuka untuk umum di seluruh Indonesia
2. Tema lomba foto adalah " Festival Masyarakat Bahari 2007"
3. Objek foto merupakan aktivitas selama kegiatan " Festival
    Masyarakat Bahari 2007" yang dilaksanakan di Pantai Losari    Makassar
4. Warna foto bebas
5. Jumlah foto masing-masing peserta max 3 lembar dengan sisi
terpanjang minimal 25 cm dan maksimal 30 cm dan sisi pendeknya
mengikuti komposisi yang dipilih masing-masing fotografer.
6. Foto adalah karya milik sendiri dan pemotretan dapat dilakukan
dengan media film ataupun digital.
7. Foto yang diserahkan ke panitia tanpa alas karton maupun
bingkai. Di balik foto ditempel kertas yang berisi keterangan; JUDUL
FOTO, NAMA, ALAMAT LENGKAP, NO TELEPON, NOMOR HANDPHONE, DAN ALAMAT EMAIL.
8. Karya foto yang diikutsertakan untuk lomba merupakan karya yang
belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
9. Seluruh foto yang masuk menjadi dokumen Perkumpulan
fotografer makassar (PERFORMA) dan carreba management, dan
dapat digunakan untuk kepentingan promosi dan publikasi.
10. Pemenang yang menggunakan media film diwajibkan
menyerahkan negatif film asli sebelum menyerahkan hadiah kepada
pemenang, sedangkan pengguna media digital diwajibkan
menyerahkan hasil karyanya dalam bentuk CD

B. Lomba Foto Memakai Kamera HANDPHONE dengan ketentuan sbb :
1. Lomba foto terbuka untuk umum
2. Tema lomba foto adalah "festival masyarakat bahari 2007"
3. Karya foto dikirim via MMS ke email: performa_mks@ yahoo.co. id
atau peserta dapat menyerahkan langsung pada stand panitia yang
berada di pantai losari makassar.
4. Jumlah foto yang kirim maksimal 3 karya
5. Foto adalah karya milik sendiri dan tanpa rekayasa digital.

Waktu Kegiatan
Pemotretan objek kategori lomba foto Profesional fotografi dan
handphone kamera

1. Tanggal 17 – 25 Agustus 2007 [ 10 pendaftar pertama yang mau ikut
pada sandeq race dari Mamuju (Sulawesi Barat) ke Makassar (Sulawesi
Selatan) bersama perahu panitia]
2. Tanggal 25 – 26 Agustus objek di pantai losari makassar

Batas akhir pengumpulan foto : 29 Agustus 2007
Penjurian lomba foto : 30 Agustus 2007
Pengumuman pemenang : 09 September 2007
Penyerahan hadiah : 09 September 2007

Keputusan dewan juri mutlak, sah dan tidak dapat diganggu gugat.

Total Hadiah 10 Juta

DEWAN JURI :
Agung Setyahadi (Wartawan KOMPAS)
Alem Febry Soni (PERFORMA, Dosen Komunikasi UNHAS)
Horst H. Liebner (Peneliti Sandeq)

Karya peserta untuk kategori profesional diserahkan atau dikirim
Dalam amplop tertutup, dengan tulisan ;
LOMBA RALLY FOTO "Festival Masyarakat Bahari 2007"

Yang ditujukan kepada :
Panitia lomba rally foto festival masyarakat bahari 2007
Perkumpulan Fotografer Makassar (PERFORMA)
Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 09 no 76
Makassar -SulSel - INDONESIA, 90245.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi
Perkumpulan Fotografer Makassar (PERFORMA)
Telpon : (0411) 579 4814
Fax : (0411) 586 459
Email : performa_mks@ yahoo.co. id

PENRAJIN BATU MERAH

February 9th, 2007 by antophoto

Bontonompo, salah satu kecamatan yang berada disebelah selatan kabupaten Gowa yang berjarak sekitar 25 km dari kota Makassar. Jarak tempuh ke kecamatan ini hanya memakan waktu sekitar 40 menit dengan kendaraan roda dua.

Kecamatan ini pernah dipimpin oleh bapak wakil gubernur Sulawesi Selatan sekarang yakni bapak Syahrul Yasin limpo yang nota bene bapak yang satu ini  lahir dan besar dari kecamatan ini pula, banyak potensi yang berasal dari kecamatan ini, namun sebagian masyarakat mungkin kurang mengetahuinya, baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya sendiri, pada kesempatan ini saya mencoba untuk mengankat salah satu potensi yang sangat berpengaruh menopang pembangunan umumnya untuk daerah kota makassar, yakni pembuatan Batu merah.

Batu merah adalah bahan pokok dari pembuatan rumah batu, namun terkadang kita lupa dari mana berasal batu merah itu sendiri, Dari hasil pengamatan yang saya lakukan beberapa bulan terakhir yang secara intensif dan rutinitas saya ke “Bantilang” nama untuk tempat pembakaran dan pembuatan batu merah, bagaimana cara pembuatan batu merah itu sendiri.

Pada beberapa kunjungan yang saya lakukan, saya mendapatkan narasumber yang sempat saya wawancarai, yakni Najamuddin “Pemilik Usaha Batu Merah”. “Dalam bahasa Makassar”

Dalam melakukan pembakaran batu merah berapa ribu batu yang dibakar?

“Biasanya sekali pembakaran itu mencapai 40.000 biji batu merah”

      

berapa hari pembakaran dilakukan?

“Maksimal 3 (tiga) hari siang malam”

Jadi, pekerjanya dikasih nginap?, berapa orang yang bekerja? 

Ya! Biasanya sampai 6 (enam) orang bergantian

Berapa banyak kayu yang dipakai untuk pembakaran batu merah sebanyak

40.000 biji?

“biasanya mencapai 2 truk atau sekitar 7 kubig

Berapa besar gaji para pekerja?

Apakah digaji sesudah pembakaran batu merah atau sebelumnya?

Pekerjanya dari mana saja?

“kebanyakan dari daerah Jeneponto, dan menginap dirumah-rumah yang dibuat

untuk sementara”

Pada kesempatan yang lain sore itu saya menengok salah seorang pekerja yang sedang asyik membuat batu merah, sambil bertanya dalam bahasa makassar

            Dari jam berapa bapak bekerja?

            Saya bekerja dari tadi, sekitar 2 jam yang lalu

            

Bagaimana bisa tanahnya dibuat seperti itu “tanah liat”?

Tanah ini dicampur dengan air, lalu diaduk sampai dapat matang tanahnya, lalu didiamkan untuk satu hari lalu besok baru dimasukkan dalam takaran pembuatan batu merahnya.

            Berapa hari pengerjannya untuk membuat cetakan bata merah itu?

            Biasanya satu minggu! untuk bisa selesai semua pengerjannya

Bapak tinggal digubuk itu ya?

            Ya, saya tinggal disitu bersama keluarga

            Berapa bulan?

Biasanya lama! Sampai selesai pengerjaan beberapa pembakaran batu merah selesai, baru bisa pulang kampung to jenguk sanak saudara di jeneponto.

Demikian perbincangan kami sore itu, matahari mulai tenggelam di upuk timur cakrawala, para buruh pekerja mulai berbenah dan ibu-ibu yang ada dikolom rumah mulai memasak untuk menyiapkan santap malam keluarganya, akupun bergegas mengambil motor untuk kembali kerumah.

Masih banyak potensi lain yang dapat saya angkat dari daerah ini, mungkin lain waktu saya akan lebih banyak menceritakannya… seperti pengendang yang terkenal sampai pernah keliling dunia hanya gara-gara kepandaian menabuh gendang dimana orangnya berasal dari daerah ini pula.

Yang Tersisa Setelah Banjir

January 5th, 2007 by antophoto

mengabadikan suasana di sejumlah lokasi banjir di Makassar pada Selasa 3 Januari 2007. Di sekitar Sungai Tallo, air masih setinggi satu-dua meter, rumah-rumah kosong, suasana sepi. Di kawasan Jalan Hertasning Baru, yang merupakan lahan pemukiman baru, genangan air yang tinggi menutupi lahan-lahan kosong di sisi kiri dan kanan jalan, sementara di Kompleks Perumahan Jalan Bung, Tamalanrea, air juga meluap merendam hampir seluruh kawasan itu. Yang tersisa setelah banjir adalah rumah-rumah yang sepi ditinggal pergi, dan anak-anak kecil yang mencoba mencari keriangan, bermain di atas luapan air.(p!)

Hujan yang mengantar kita memasuki tahun baru kali ini. Karenanya, orang-orang bergegas menyelamatkan diri dan harta benda, tak peduli lagi pada perayaan yang lazimnya digelar untuk menyambut awal tahun. Air yang terus meninggi menyisakan tak banyak pilihan kecuali mengungsi. Di Makassar, banyak orang yang mengisi awal tahun dengan rasa panik dan cemas, bukannya dengan tiupan terompet dan suka cita. Orang-orang semakin cemas menyaksikan kanal-kanal yang tak mampu menahan limpahan curahan air dari langit, dan semakin cemas mendengar kabar bahwa air laut pun terus pasang. Air memang makin meninggi, terus meninggi, menggenangi jalan, dimuntahkan kembali oleh selokan dan kanal, dan akhirnya menerobos masuk ke rumah-rumah penduduk. Tak banyak pilihan, kecuali bergegas mengungsi dan membiarkan rumah-rumah menjadi tak bertuan. Dan, kita masih akan terus cemas, karena petugas cuaca mengabarkan ramalan tentang hujan yang masih akan terus turun sepanjang bulan pertama tahun ini. (p!)

Satoe Minggu di Yogyakarta

July 15th, 2005 by antophoto

Satoe Minggu di Yogyakarta

Rabu malam dini hari pukul 03.00 Wib aku menginjakkan kaki di kota Yogya, malam ini begitu dingin bercampur lelah menunggu saudara untuk menjemputku, jarak dari tempat tinggal saudaraku sekitar 20 menit melakukan perjalan, sehingga aku merasa harus menunggu. maka kulankahkanlah kaki menuju warung begadang yang masih terbuka, aku diperhadapkan beberapa banyak makanan dan akupun memesan kopi panas kesukaanku.

Sembari berbincang dengan ibu penjual sesekali kulihat jalanan untuk memastikan apakah saudaraku sudah sampai untuk menjemputku, untunglah malam ini begitu sunyi yang ada hanya para sopir taksi yang sesekali menawariku untuk diantar namun aku tolak demikian pula dengan tukang ojek dan becak beberapa kali menawariku untuk diantar.

Aku masih menikmati kopi-ku

berselang beberapa menit saudaraku telah muncul dan akupun memanggilnya, karena belum habis kopiku maka aku mencoba untuk menghabiskannya yang tersisa setengah itu.

akupun buru-buru untuk menghabiskannya.

Melaju dengan sepeda motor, menuju arah kota Yogyakarta.. menelusuri jalan-jalan yang dulu masih melekat dibenat kepala namun perubahan telah berubah. sampai aku dirumah aku langsung terbaring dalam tikar dan tidak sadar lagi tertidur dalam mimpi-mimpi panjangku. sampai keesokan harinya.

Pagi hari nan indah di yogaykarta diselimuti angin segar nan sangat berbeda dengan kota besar Jakarta penuh kesumpetan dan kemacetan, copet, dan lain sebagainya. Dalam benak inilah Yogya yang penuh dengan khasanah, budaya dan dipenuhi oleh seniman-seniman.

Siang ini aku di jemput Bunda-ku yang sedang mengambil program Doctoral di sekolah pasca sarjana UGM, aku diajak untuk menemui senior yang sedang mengikuti pelatihan di yogay selama 6 hari, aku berangkat kehotelnya yang berbintang lima, setelah ketemu dan ngobrol sejam kurang lebih aku berada di lobby hotel tersebut, aku keluar dan mencari tempat untuk makan siang bersama bunda.

Selesai makan aku minta untuk diantar ke gelanggang mahasiswa UGM tepatnya di tempat anak-anak Unit Fotografi Gajag Mada, aku bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, kebetulan aja teman-teman lama masih ada tersisa di kampus dan lagi berada ditempat nagkringan anak mahasiswa, aku disambut dengan baik. Aku diajak untuk makan nasi kucing, inilah awal aku mengenal yang namanya nasi kucing, aku tidak sadar bahwa aku hanya memakan nasi kucing satoe bungkus, es the manies, gorengan 4 buah hanya membayar Rp.1.600,- begitu “MuRAH” aku kaget dan teman-teman juga pada kaget karena aku membayarnya Rp.3.600,- aku berpikir bahwa ko’ bisa makanan yang aku makan sebanyak itu hanya aku bayar segitu, padahal kalo sudah di daerah Makassar sudah tidak bisa aku dapatkan. Dari sore aku berada di kampus ugm sampe sekitar pukul 23.30 aku baru pamit sama teman-teman yang masih asyik ngobrol, karena di Yogya sesudah magrib sudah tidak ada lagi kendaraan umum dan yang ada hanya taxi dan itupun harus menawar maka aku minta pada teman yang memiliki kendaraan untuk diantar kerumah. Itulah hari pertamaku berada di yogyakarta penuh dengan cerita

 

Tunjungan Plaza Surabaya

July 12th, 2005 by antophoto

Hari ini aku janjian dengan beberapa teman di surabaya, soalnya besok aku harus balik ke makassar. namun aku hanya bisa untuk menemui temanku yang belikan aku tiket hari ini. aku janjian pukul 17.00 wib tepatnya di tunjungan Plaza Surabaya.

Sudah 4 hari aku di surabaya…. walaupaun udah keliling motret namun masih sedikit moment yang bisa aku abadikan.