PENRAJIN BATU MERAH

Bontonompo, salah satu kecamatan yang berada disebelah selatan kabupaten Gowa yang berjarak sekitar 25 km dari kota Makassar. Jarak tempuh ke kecamatan ini hanya memakan waktu sekitar 40 menit dengan kendaraan roda dua.

Kecamatan ini pernah dipimpin oleh bapak wakil gubernur Sulawesi Selatan sekarang yakni bapak Syahrul Yasin limpo yang nota bene bapak yang satu ini  lahir dan besar dari kecamatan ini pula, banyak potensi yang berasal dari kecamatan ini, namun sebagian masyarakat mungkin kurang mengetahuinya, baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya sendiri, pada kesempatan ini saya mencoba untuk mengankat salah satu potensi yang sangat berpengaruh menopang pembangunan umumnya untuk daerah kota makassar, yakni pembuatan Batu merah.

Batu merah adalah bahan pokok dari pembuatan rumah batu, namun terkadang kita lupa dari mana berasal batu merah itu sendiri, Dari hasil pengamatan yang saya lakukan beberapa bulan terakhir yang secara intensif dan rutinitas saya ke “Bantilang” nama untuk tempat pembakaran dan pembuatan batu merah, bagaimana cara pembuatan batu merah itu sendiri.

Pada beberapa kunjungan yang saya lakukan, saya mendapatkan narasumber yang sempat saya wawancarai, yakni Najamuddin “Pemilik Usaha Batu Merah”. “Dalam bahasa Makassar”

Dalam melakukan pembakaran batu merah berapa ribu batu yang dibakar?

“Biasanya sekali pembakaran itu mencapai 40.000 biji batu merah”

      

berapa hari pembakaran dilakukan?

“Maksimal 3 (tiga) hari siang malam”

Jadi, pekerjanya dikasih nginap?, berapa orang yang bekerja? 

Ya! Biasanya sampai 6 (enam) orang bergantian

Berapa banyak kayu yang dipakai untuk pembakaran batu merah sebanyak

40.000 biji?

“biasanya mencapai 2 truk atau sekitar 7 kubig

Berapa besar gaji para pekerja?

Apakah digaji sesudah pembakaran batu merah atau sebelumnya?

Pekerjanya dari mana saja?

“kebanyakan dari daerah Jeneponto, dan menginap dirumah-rumah yang dibuat

untuk sementara”

Pada kesempatan yang lain sore itu saya menengok salah seorang pekerja yang sedang asyik membuat batu merah, sambil bertanya dalam bahasa makassar

            Dari jam berapa bapak bekerja?

            Saya bekerja dari tadi, sekitar 2 jam yang lalu

            

Bagaimana bisa tanahnya dibuat seperti itu “tanah liat”?

Tanah ini dicampur dengan air, lalu diaduk sampai dapat matang tanahnya, lalu didiamkan untuk satu hari lalu besok baru dimasukkan dalam takaran pembuatan batu merahnya.

            Berapa hari pengerjannya untuk membuat cetakan bata merah itu?

            Biasanya satu minggu! untuk bisa selesai semua pengerjannya

Bapak tinggal digubuk itu ya?

            Ya, saya tinggal disitu bersama keluarga

            Berapa bulan?

Biasanya lama! Sampai selesai pengerjaan beberapa pembakaran batu merah selesai, baru bisa pulang kampung to jenguk sanak saudara di jeneponto.

Demikian perbincangan kami sore itu, matahari mulai tenggelam di upuk timur cakrawala, para buruh pekerja mulai berbenah dan ibu-ibu yang ada dikolom rumah mulai memasak untuk menyiapkan santap malam keluarganya, akupun bergegas mengambil motor untuk kembali kerumah.

Masih banyak potensi lain yang dapat saya angkat dari daerah ini, mungkin lain waktu saya akan lebih banyak menceritakannya… seperti pengendang yang terkenal sampai pernah keliling dunia hanya gara-gara kepandaian menabuh gendang dimana orangnya berasal dari daerah ini pula.

Leave a Reply